Skip to main content

>Sri Mulyani Masuk Jadi wanita Paling Berpengaruh di Dunia 2011 versi Forbes

>Sri Mulyani Masuk Jadi wanita Paling Berpengaruh di Dunia 2011 versi Forbes | Sri Mulyani Indrawati (SMI) mantan Menteri Keuangan Presiden SBY Jilid 1 dan 2, pada tahun 2010 yang lalu akhirnya mengundurkan diri jadi Menteri Keuangan yang kemudian saat ini mengemban tugas di World Bank. Sebuah Majalah dunia Forbes merilis 100 wanita paling berpengaruh di dunia pada tahun 2011, dan Sri Mulyani Indrawati masuk posisi 65 jadi Wanita paling berpengaruh di dunia tahun 2011. SMI yang saat ini dicalonkan jadi Capres tahun 2014 oleh Partai baru yang bernama SRI

[Baca juga: partai SRI partai pengusung Sri Mulyani Capres 2014, 13 tips aman tinggalkan rumah saat mudik lebaran, 10 manfaat sehat olahraga menggunakan sepeda]

Sri Mulyani Indrawati (SMI) kembali didaulat menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di dunia oleh majalah Forbes. Mantan menteri keuangan RI tersebut menempati posisi 65 dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia.

Seperti dikutip dari Forbes, Jumat (26/8/2011), SMI diangkat menjadi salah satu dari tiga managing director Bank Dunia, sekaligus mundur dari jabatannya kala itu, menteri keuangan. Dengan jabatannya tersebut, SMI sekarang ini menjalankan program Bank Dunia di Amerika Latin, Asia Timur, Pulau Karabia, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Awalnya, SMI yang merupakan lulusan kampus Amerika Serikat (AS) ini mendapatkan pekerjaan pertamanya di USAID, yang merupakan salah satu lembaga yang memberikan investasi serta pinjaman kepada Indonesia.Selanjutnya, ibu dari tiga anak ini dipercaya International Monetary Fund (IMF) untuk menangani Asia Tenggara. Berbekal pengalamannya itu lah, SMI bisa menjabat sebagai menteri keuangan RI pada tahun 2005.

Saat wanita kelahiran Bandar Lampung ini menjadi menkeu, dia berhasil menggenjot pendapatan negara jadi USD50 miliar, memangkas utang yang besar, dan menetapkan kebijakan kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS).

Gerakan reformasi birokrasi yang digarapnya membuat dirinya memiliki banyak musuh dan banyak kritikan dan tekanan politik yang datang kepadanya dan membuatnya memilih hengkang ke Bank Dunia.

Bukan kali ini saja wanita berkacamata ini diakui Forbes sebagai wanita berpengaruh. Pada tahun 2008 lalu juga SMI didaulat menjadi wanita ke-23 paling berpengaruh di dunia. Sementara pada tahun 2009, SMI menduduki posisi ke-71 sebagai wanita paling berpengaruh.

Di sisi lain, Kanselir Jerman Angela Merkel kembali merebut posisi teratas daftar 100 wanita paling berpengaruh versi majalah Forbes ini. Selama empat tahun berturut-turut, Merkel menempati posisi wanita paling berpengaruh sebelum pada 2010 ibu Negara Amerika Serikat (AS) Michelle Obama menggesernya. Di tengah krisis utang, revolusi Timur Tengah, dan kepanikan pasar di dalam negeri, Merkel membuktikan diri sebagai wanita yang tangguh untuk menghadapi semua masalah-masalah itu sebagai seorang pemimpin negara.

Sementara, ketika revolusi bergejolak di dunia Arab, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dipandang telah memberikan dorongan bagi para pembelot untuk tetap bergerak. Inilah yang membuat Hillary dianggap Forbes layak menempati urutan kedua daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia.

Di tempat ketiga terdapat Presiden Brasil Dilma Rousseff yang baru terpilih tahun ini. Dalam daftar itu tercatat delapan kepala negara dan 29 CEO yang menjadi bagian dari penghuni daftar itu. Mereka rata-rata berusia 54 tahun dan secara kolektif mengontrol USD30 triliun. Dari semua itu, 22 orang di antaranya masih lajang.

Di daftar lima teratas daftar itu, selain Merkel, Hillary, dan Rousseff, juga terdapat CEO PepsiCo AS Indra Nooyi, yang mengawasi kerajaan makanan dan minuman bernilai USD60 miliar dan COO Facebook Sheryl Sandberg, yang terakreditasi dengan mempersiapkan IPO jaringan sosial yang bisa meraup uang sebesar USD100 miliar.

Dari kawasan Asia, Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra yang baru terpilih pada Juli lalu langsung menduduki peringkat ke-59 daftar tersebut. Selain Yingluck, Sonia Gandhi (India) dan Aung San Suu Kyi (Myanmar) juga masuk dalam daftar.(economy.okezone.com)